
Pagi itu, 27 Mei 1964, rakyat India dikejutkan oleh sebuah berita duka. Hari itu Nehru, pemimpin mereka yang juga salah seorang founding fathers negeri, diberitakan mangkat. Serangan jantung telah mengakhiri kehidupan sang perdana menteri.
Serangkaian upacara pemakaman cara Hindu digelar. Jasadnya dikremasi di Shantivana yang terletak di tepi sungai keramat Yamuna. Ratusan ribu warga kala itu berjejalan mengikuti upacara itu dengan khidmat. Mereka memenuhi jalan-jalan mulai dari New Delhi hingga ke tempat perabuan.
Nehru. Namanya tidak saja amat berarti bagi rakyat India. Ia juga menjadi pemimpin Asia yang amat disegani karena kiprahnya. Bersama dua pemimpin Asia lainnya, Soekarno dari Indonesia dan Gamal Abdul Nasser dari Mesir, ia berhasil membawa negara-negara Asia-Afrika menjadi satu blok tersendiri yang amat diperhitungkan dalam percaturan dunia.
Lahir dengan nama lengkap Jawaharlal Nehru di kawasan tepian Sungai Gangga, kota Alahabad, pada 14 November 1889. Ia dibesarkan di tengah nuansa sungai yang disucikan oleh umat Hindu India itu di tengah keluarga kaya. Maklum, ayahnya, Motilal Nehru, adalah seorang pengacara sekaligus tokoh politik kondang di kawasan yang kini masuk wilayah Negara Bagian Uttar Pradesh tersebut.
Ia anak sulung pasangan Motilal dan Swarup Rani. Terkisah, leluhurnya berasal dari kawasan Kashmir dan memiliki status mulia dalam masyarakat India. Pangkalnya, mereka berasal dari kasta tertinggi dalam agama HIndu: Brahmana. Setelah tamat dari sekolah hukum di Kashmir, Motilal pindah ke Alahabad dan menjadi pengacara. Setelah sukses, ia pun masuk dan aktif di partai terbesar di India kala itu: Kongres Nasional India.
Sebagai anak orang kaya, Nehru bersama kedua adik perempuannya, Vijaya Lakshmi dan Krishna, mukim di sebuah mansion berjuluk Anand Bhavan. Mereka dididik dengan tata cara Inggris: mulai dari kebiasaan sehari-hari, bahasa, nilai-nilai, hingga cara berbusana. Walau demikian, mereka tetap mendapat kesempatan memelajari bahasa Hindi dan Sansekerta.
Hingga usia 15 tahun, Nehru mengenyam pendidikan dasar dan menengah di Alahabad. Setelah itu, ia dikirim sang ayah ke Inggris untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Harrow. Semasa sekolah di Inggris itulah ia mendapat nama baru: Joe Nehru. Setelah sempat melanjutkan pendidikan bidang ilmu-ilmu alam di Trinity College, Nehru lalu memilih sekolah hukum di Inner Temple, London, lalu mendapat ijazah sarjana hukum di sana.
Semasa mahasiswa, Joe Nehru dikenal secara tetap singgah ke teater, museum, dan gedung-gedung opera di London. Masa-masa liburan sekolah pun dimanfaatkannya untuk keliling Eropa. Ia masuk dalam jajaran mahasiswa yang populer karena ketampanan, kecerdasan, dan hubungan sosialnya yang luas.
Namun, tak ada catatan resmi yang menguak prestasi akademik calon perdana menteri pertama India itu. Yang jelas, ia memang menyemplungkan diri secara aktif dalam kegiatan-kegiatan dan aksi politik kelompok mahasiswa India di Eropa. Dalam masa-masa itulah ia mengenal dan memahami sosialisme dan liberalisme yang memang lagi naik daun di bumi Eropa. Belakangan, sosialisme menjadi sokoguru pandangannya dalam membangun India.
Sepulangnya ke India pada awal 1916, ia segera dinikahkan dengan seorang gadis India, Kamala Kaul, yang masih berusia 17 tahun. Pada masa-masa awal perkawinan mereka, sempat terjadi benturan kultural antara kedua pasangan muda itu. Pangkalnya, Nehru sudah sangat terbiasa dengan tatacara Barat, sedangkan istrinya seorang penganut Hindu yang amat taat.
Pada tahun berikutnya, lahirlah putri mereka, yang juga anak satu-satunya, Indira Priyadarshini. Kelak, sang anak yang lebih dikenal dengan nama Indira Gandhi itu

0 komentar:
Poskan Komentar