
Lahir dari keluarga petani di lahan kolektif. Kehidupan masa kecilnya penuh keprihatinan di bawah rezim totaliter Joseph Stalin. Sejak kecil menjadi murid terpandai di kelasnya, terutama untuk mata pelajaran matematika dan sejarah.
“Hari ini, perdamaian bermakna pendakian: dari sekadar hidup berdampingan, menjadi kerjasama dan kreativitas bersama di antara bangsa-bangsa dan negara-negara. Perdamaian adalah pergerakan ke arah peradaban global dan universal. Sebelum ini, tak pernah ada gagasan bahwa perdamaian sesungguhnya tidak dapat dipecah-pecah seperti adanya kini. Perdamaian bukanlah kesatuan dalam kesamaan, melainkan kesatuan dalam keberagaman, dalam perbandingan, dan upaya mendamaikan perbedaan-perbedaan.”
“Saya memandang keputusan untuk menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian kepada saya sebagai sebuah aksi solidaritas terhadap langkah monumental yang telah mendudukkan sejumlah tuntutan pada masyarakat Soviet dalam hubungan upaya-upaya, beaya, penderitaan, tekad, dan karakter. Dan solidaritas merupakan sebuah nilai universal yang menjadi sangat diperlukan demi kemajuan dan untuk kelangsungan hidup umat manusia.”
Catatan kecil yang bernada optimistis itu ditorehkan Mikhail Gorbachev dalam memoarnya yang berjudul Memoirs Mikhail Gorbachev (1995). Kurang lebih tiga setengah tahun setelah ia meninggalkan kursi kepresidenan. Pemimpin terakhir Uni Soviet itu memang tercatat sebagai penerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1990. Berbagai langkah, upaya, dan kebijakan yang ditempuhnya sebagai salah seorang pemimpin dunia, dinilai sangat mendukung perdamaian.
Tengok saja beberapa langkah pentingnya dalam mendinginkan suhu politik dunia. Segera setelah duduk sebagai presiden sekaligus pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet, ia mengubah kebijakan luar negeri yang semula dingin menjadi luwes menghadapi Barat. Ia memulai langkah pendekatan ke sejumlah pemimpin Barat untuk mengakhiri Perang Dingin yang berjalan sejak akhir Perang Dunia II.
Sebagai bagian dari pemikirannya tentang restrukturisasi alias perestroika, tokoh yang kerap disapa “Gorby” itu mengeratkan hubungan dengan pemimpin Barat. Kanselir Jerman Barat Helmut Kohl, Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan adalah tiga dari sekian banyak pemimpin Barat yang berhasil didekatinya.
Sampai-sampai, Thatcher mengeluarkan pernyataan yang amat terkenal kala itu: “Saya suka Gorbachev, kami benar-benar bisa bekerja sama.”
Pendekatan-pendekatan itu berbuah manis. Dimulai dari langkah Gorby pada 8 April 1986, yakni mengumumkan penghentian pengembangan rudal SS-20 di kawasan Eropa Timur. Itu merupakan upaya awalnya untuk menyelesaikan isu panas senjata nuklir jarak menengah. Ia pun mengajukan usul agar Moskow dan Washington sama-sama mengurangi arsenal nuklir masing-masing sampai separuhnya. Kendati upaya itu memakan waktu lebih dari satu tahun, Gorbachev dan Reagan akhirnya menandatangani traktat pembatasan senjata nuklir jarak menengah pada 22 Juli 1987.
Bukan itu saja langkahnya untuk mendinginkan hawa politik dunia. Demi stabilitas dan perdamaian regional, pada Februari 1988, Gorby mengumumkan rencana penarikan mundur seluruh pasukan Soviet dari Afghanistan. Walaupun langkahnya kemudian berakibat perang saudara berkepanjangan di “Negeri para Mujahidin” itu, Gorby konsisten dengan kebijakannya untuk melepas sama sekali campur tangan Soviet di berbagai negara.
Kebijakan serupa juga ia terapkan di negara-negara satelit Eropa Timur. Gorby melepaskan sama sekali Doktrin Breznev yang memberi perlindungan dan ikut campur dalam urusan negara-negara yang dikenal sebagai Blok Timur, seperti Cekoslovakia, Yugoslavia, Rumania. dan Hungaria. Walhasil, sejarah mencatat, kebijakan itu memicu perpecahan internal di berbagai negara satelit itu, lalu melahirkan negara-negara baru. Uni Soviet sendiri pun harus membayar mahal kebijakan itu, dengan perpecahan internal dan bubarnya negara bernama Uni Soviet. Tapi, langkah itu justru mencapai hasil lebih luhur: menamatkan sama sekali Perang Dingin.
Gorby lahir dari latar belakang keluarga petani di lahan kolektif di kota Pivolnoye, Provinsi Stavropol, pada 2 Maret 1931. Kakeknya, Pantelei Yefimovich Gopkalo, yang berprofesi sebagai mekanik alat pertanian, adalah seorang pengikut setia Partai Komunis Uni Soviet (PKUS). Sang kakek juga menjadi ketua partai di Kolkhoz yang pada 1937 pernah ditangkap polisi rahasia NKVD karena dicurigai memimpin organisasi bawah tanah yang mendukung Leon Trotsky--tokoh Soviet yang beraliran moderat masa itu.
Dalam memoarnya, Gorby menyebut peristiwa penahanan sang kakek selama hampir dua tahun berdampak sangat dramatis bagi kehidupan dan pendangan politiknya di kemudian hari. Dari sang kakeklah ia banyak belajar tentang komunisme. Pantelei yang tetap setia pada paham komunis, memperkenalkan Gorby pada pemikiran Karl Marx, Frederick Engels, dan Lenin, tapi tidak dengan pemikiran Trotsky. Lebih jauh lagi, dari rak buku sang kakek, Gorby mengenal lebih dalam ajaran ketiga tokoh itu.
Selama Perang Dunia II, kampung halaman Gorby diduduki pasukan Nazi Jerman. Masa itu sungguh melekat dalam memorinya, dan ikut memengaruhi karakter dan pandangan dunianya. Dalam memoarnya, ia mencatat masa gelap perang itu: “Saya berusia empat belas tahun saat perang usai. Generasi kami adalah generasi anak-anak era perang. Perang telah membakar kami, meninggalkan bekas pada karakter kami, dan pandangan kami terhadap dunia.”
Kehidupan masa kecilnya boleh dibilang penuh keprihatinan di bawah rezim totaliter Joseph Stalin. Apalagi, di masa kakeknya ditahan polisi rahasia dan dijebloskan ke penjara khusus tahan politik. Seperti dilukiskannya dalam memoar, “Semasa kanak-kanak, aku tetap saja menyaksikan sisa-sisa cara hidup khas perkampungan Rusia. Pondok-pondok batako berlantai tanah, tanpa ranjang di kamar-kamarnya. Orang-orang tidur di papan yang digelar di atas perapian.”
Walau demikian, bakat dan kecemerlangan otaknya, baik di lapangan maupun di kelas, sudah tampak menonjol sejak ia mengenyam bangku sekolah. Gorby kecil selalu muncul sebagai yang terpandai di kelasnya, terutama untuk mata pelajaran matematika dan sejarah yang memang amat digandrunginya. Seusai jam sekolah, ia membantu ayahnya mengelola lahan pertanian kolektifnya. Berkat kerjanya yang mencapai rekor panen terbaik, Gorby pun dianugerahi penghargaan Golongan Pataka Merah Buruh di usia sangat belia, 16 tahun. Sangat jarang pemuda seusia dia mendapat penghargaan tertinggi untuk kaum buruh-tani itu.
Penghargaan itu pula yang membawa Gorby langsung diterima masuk sebagai mahasiswa Universitas Moskow. Ia mengambil jurusan hukum di universitas itu sejak September 1950. Tapi, sejak awal sebenarnya ia tidak berminat terjun sebagai praktisi hukum. Gorby menjadikan jurusan itu sebagai jembatan dan persiapannya kelak untuk berkecimpung di PKUS. Hanya berselang beberapa bulan setelah menjadi mahasiswa, ia tercatat sebagai kandidat anggota partai.
Semasa di bangku kuliah itu, ia berkenalan dengan Raisa Maksimovna Titorenko, seorang mahasiswi filsafat yang kelak menjadi istrinya. Hubungan mereka cukup singkat dan berakhir di pelaminan. Mereka menikah pada 25 September 1953, selagi masih sama-sama kuliah. Baru pada Juni 1955, pasangan muda itu pindah ke Stavropol setelah sama-sama menamatkan studi mereka. Di kampung halamannya itulah Gorby mulai membenamkan diri dalam kegiatan-kegiatan partai. Ia aktif dalam organisasi persatuan pemuda komunis, Komsomol.
Di organisasi pemuda itu, kariernya cepat melambung. Pada September 1956, ia diangkat menjadi sekretaris pertama Komite Komsomol wilayah kota Stavropol. Dua tahun kemudian, ia menduduki posisi sekretaris dua Komite Komsopol tingkat provinsi dan menjadi sektretaris pertama provinsi pada 1960. Dalam posisi itulah, ia mewakili Provinsi Stavropol dalam Kongres ke-22 PKUS yang digelar di Moskow pada 1961.
Sambil aktif dalam kegiatan Komsomol, Gorby masih sempat menyelesaikan studi masternya di Institut Pertanian Stavropol dalam kurun 1964-1967. Selain itu, prestasinya dalam organisasi rupanya menarik perhatian Yuri Andopov, yang kala itu mengepalai Komite Keamanan Nasional alias KGB. Diam-diam Andropov menggunakan pengaruh jabatannya yang kuat untuk mempromosikan Gorby. Hasilnya, pada 1971, Gorby diterima menjadi anggota Komite Sentral PKUS. Setelah sempat menduduki kursi menteri pertanian, Gorbachev menjadi anggota termuda Politbiro pada 1980, dan kemudian dipercaya sebagai deputi Konstantin Chernenko.
Tahun 1985, setelah kematian Chernenko, Komite Sentral PKUS sepakat memilih Gorby sebagai sekretaris jenderal partai. Dalam posisi tertinggi itu, ia mulai menempuh sejumlah langkah gebrakan. Dimulai dari dalam tubuh partai, ia meremajakan kepengurusan partai dan juga posisi di pemerintahan. Ia mengganti petinggi-petinggi tua dengan tenaga-tenaga yang lebih muda. Salah satu yang cukup menghebohkan adalah penggantian Andrei Gromyko dengan Eduard Shevardnadze di posisi menteri luar negeri. Ini sesuai dengan janji yang diucapkannya dalam pidato di depan peserta rapat pleno Komite Sentral pada April 1985 di Leningrad [Kini St. Petersburg]. DaIam forum itu, ia memperkenalkan pemikirannya seputar reformasi di segala bidang.
Pada masa-masa itu pula, ia berkampanye tentang pentingnya perbaikan dan reorganisasi ekonomi Uni Soviet yang mulai menunjukkan penurunan. Beban yang ditanggung pemimpin Blok Timur untuk mendukung ekonomi negara-negara satelitnya ternyata terlalu berat bila tetap mempertahankan sistem totalitarian dan ekonomi tertutup. Model reformasi itu awalnya dirumuskannya sebagai uskoreniye alias percepatan ekonomi, dan perestroika alias restrukturisasi. Belakangan, konsep reformasi itu lebih dikenal dengan julukan glasnost alias demokratisasi, dan perestroika.
Program reformasi pertama yang ditempuhnya adalah pemberantasan korupsi dan reformasi perdagangan minuman beralkohol. Prgoram yang mulai dijalankan pada 1985 itu, di satu sisi cukup berhasil. Tapi, reformasi alkohol ternyata tidak mengurangi konsumsi alkohol di kalangan warga. Penataan perdagangan vodka, misalnya, justru berakibat penciutan pendapatan negara dalam jumlah cukup signifikan. Negara kehilangan tak kurang dari 100 miliar rubel karena produksi minuman itu justru membanjiri pasar gelap minuman.
Gerakan reformasi total Gorbachev itu pun berbeaya sangat besar: pecahnya Uni Soviet. Kendati demikian, Gorby tak kecil hati. Dalam memoarnya, ia mengungkap isi hatinya. Mengapa negeri sebesar Uni Soviet itu pecah? Jawabnya sederhana saja: “Sistemnya memang mengharamkan perubahan. Doktrin mati dan sistem pergantian pemimpin secara natural sudah dijejalkan sedemikian lama. Begitu ada kehendak untuk melakukan sesuatu pada sistem itu, semua sudah terlambat.”
Tapi, Gorby tidak menyerah. Setelah lengser dari kursi kepresidenan pada akhir 1991, ia tetap melibatkan diri dalam dunia politik. Ia mendirikan Partai Demokratik Rusia dan ikut pemilu presiden pada 1996 kendati kalah dari Boris Yeltsin. Parti itu dibubarkan oleh Pengadilan Federal karena tidak dapat memenuhi syarat jumlah keanggotaannya di daerah-daerah. Ia lalu mendirikan partai baru, Partai Uni Sosial-Demokrat. Seiring perjalanan waktu, nama Gorby kian meredup dalam peta politik Negeri Beruang itu. Tapi, namanya tetap tercatat dengan tinta emas sebagai tokoh perdamaian dunia.

1 komentar:
sukses terus bil!!
Posting Komentar